Thursday, December 31, 2020

Dōmo arigatōgozaimashita 2020

 Sebelum tahun 2021 datang. Suara letusan kembang api sudah mulai terdengar di Langit di daerahku tinggal. Tak dipungkiri bahwa seantero Manusia di Dunia ini pasti mendengar suara tersebut. Kita sebagai umat islam pasti sudah tahu sebaiknya sikap kita dalam menyambut setiap pergantian tahun. Tapi tak sedikit juga ada sikap acuh tak acuh dengan perihal tersebut. Sebaliknya bagi yang sadar akan makna sesungguhnya tujuan kita hidup di Dunia ini, mereka pasti akan introspeksi diri dan memantapkan langkah yang diambil untuk tahun selanjutnya.

Terima kasih Allah swt, pada tahun 2020 :

 Engkau telah ...

1. memberi aku banyak kebahagian, 

2. Engkau membuat aku sabar dalam mengahadapi segala cobaan 

3. Engkau memberi kesehatan kepadaku

4. Engkau mengabulkan harapanku untuk dapat menyelesaikan study.

5. Engkau telah banyak memberiku sesuatu yang tidak dapat aku ungkapkan.

Resolusiku Tahun 2021

Aku sebagai hambaNya yang belum tentu baik dihadapanNya (Allah subhanalluhu wa ta'ala). 

InsyaAllah.., aku menjadi HambaNya yang lebih baik lagi di tahun 2021.




Friday, December 11, 2020

Hidup sebagai Penumpang

Kehidupan dunia ini diibaratkan seolah-olah kita sedang melakukan perjalanan mengendarai BUS. Sang sopir menghidupkan lampu sen, tanda bahwa mobil akan berhenti. Setelah itu sang Sopir menyampaikan beberapa pesan kepada seluruh penumpang bus.

Dunia hanya  Persinggahan Sementara (aktualitas.id)

"Wahai para penumpang, kita sekarang berhenti disebuah kota persinggahan. Selama di Kota ini, kita akan beristirahat sejenak hanya sekedar melepas lelah dan menambah bekal di perjalanan. Namun, sebelum kalian keluar. Kami mohon kalian semua mendengar dengan baik pesan kami ini.

Pertama, kota ini hanya kota persinggahan. Kota impian yang akan kita tuju bukanlah disini tempatnya. Kota yang penuh dengan berbagai sejuta keindahan dan kenikmatan itu masih sangat jauh dan membutuhkan perjalan berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan.

Kedua, selama di kota ini kalian juga akan memperoleh berbagai fasilitas yang hanya boleh diambil dengan bayaran yg seadanya. Apa yang kalian beli, jadikan itu sebagai bekal untuk melanjutkan perjalanan. Ambillah secukupnya, sebab jika kalian berlebihan akan mengikuti perjalanan kalian sendiri.

Ketiga, karena di Bus ini setiap penumpang bebas tempat duduknya, maka siapa yang segera kembali ke dalam kapal ini, dia berhal mengambil kursi yang terbaik. Sedangkan bagi yang terlambat pastinya tidak akan memperoleh tempat yang paling belakang.

Keempat, waktu yang kalian miliki di kota ini hanya satu jam, tidak lebih sedikit pun. Setelah itu Bus akan segera berangkat kembali. Tidak ada toleransi bagi yang masih ada di kota, kecuali dia akan tertinggal.

Kelima, kota ini juga terdapat beberapa fasilitas yang hampir serupa dengan yang ada di kota impian. Akan tetapi, seluruh fasilitas kota ini tidak sebanding dengan kota yang menjadi tujuan akhir perjalan ini. 

Keenam, Kota ini banyak mafia dan penjahat yang sewaktu waktu bisa berbuat kejam kepada siapa saja yang lemah atau lengah. Ada yang berpakaian rapi dan sopan namun sebenarnya adalah penipu. Oleh karena itu, kalian harus berhati-hati terhadap mereka. Jangan kalian mudah percaya oleh bujuk rayu dan tipuan mereka. Disamping banyak penjahat, adapula pedagang-pedagang yang curang dan licik. Tak jarang mereka menjual barang palsu dan imitasi namun terlihat seperti asli. Oleh karena itu, jika kalian tidak memerlukan, jangan sekali-kali mendekatinya apalagi mencoba menawarnya.

Ketujuh, kota ini ada juga klinik dan fasilitas hiburan. Jika ada di antara kalian yang sakit, silahkan mendatangi klinik tersebut.  Ada juga pertunjukan dan atraksi yang membuat seseorang bisa terhibur. Namun jangan kalian lengah, ditengah-tengah penonton banyak juga pencopet dan orang-orang jahat yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. 

Kedelapan, Saya (Sopir) mengingat bahwa jatah duduk kalian terbatas. Kami mohon jangan ada yang membawa barang yang berlebihan. Sebab hal itu akan menyulitkan kalian sendiri dan menyulitkan perjalanan berikutnya.

Kesembilan, jarak antara perjalanan pertama sehingga ke kota ini belumlah seberapa jika dibandingkan jarak antara kota ini dengan kota tujuan kita. Selama perjalanan nanti kita akan melewati banyak rintangan dan hambatan. Namun, kalian tidak perlu khawatir jika kalian mau mematuhi rambu-rambu lalu lintas. InsyaAllah, Bus ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas modern sehingga bisa menanggulangi berbagai persoalan di tengah perjalanan.

Pahamilah, kehidupan di dunia sejatinya kita sedang berhenti di tempat persinggahan sementara.  Kita hanya diberi waktu sebentar untuk hidup di Dunia ini.

Sore hari ini tepatnya pada Hari Jum'at 11 Desember 2020 pukul 15.00 WIB (Western Indonesia Time), saya mendengar kabar bahwa Bapak yang sering jadi Imam di Masjid komplek perumahan telah Meninggal Dunia, dan seminggu yang lalu juga  Dosen saya selagus Ustadz di kampus juga telah berpulang kembali disisi Allah SWT.  Saya sudah dua kali dalam sebulan ini diingat oleh Allah SWT., bahwa Dunia ini hanya tempat sementara.  Allah SWT berfirman sebagai berikut:

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS Al-An’aam ayat 32).

Ketika mendapat peringatan itu, mari Segera lah Kawan.. ! Kita mulai dari detik, jam dan bulan ini. Sibukkan diri untuk memperbanyak bekal kita untuk dibawa ke tempat tujuan akhir kita. Hilangkan lah kesibukan yang tidak berfaedah yang membuat kita lalai dan lupa apa arti sebenarnya tujuan Allah SWT menghidupkan kita di Dunia ini.

#ChangeYourGoal #Lillah 



Thursday, December 10, 2020

Sakaratul Maut

 Sakitnya Sakaratul Maut

Saat seorang hamba akan berpisah dengan dunia dan memasuki alam keabadian di akhirat, dia akan mengalami saat-saat kritis yang sangat menyakitkan. Rasa sakit pada masa tersebut melebihi seluruh rasa sakit yang pernah dia alami sebelumnya. Begitu pedihnya, sehingga sulit diungkapkan dengan untaian kata-kata. Kondisi ini sering disebut dengan istilah Sakaratul Maut.

Imam Ar-Raghib Al-Asfahani dan para ulama lain menjelaskan bahwa istilah Sakaratul Maut diambil dari kata dasar sakara, yang artinya mabuk atau kehilangan akal. Dalam bahasa Arab, kata sakara paling banyak digunakan untuk makna 'mabuk karena meminum minuman keras'. Terkadang juga digunakan dengan makna marah, rindu berat, mengantuk, rasa sakit, dan pingsan karena beratnya rasa sakit. (Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fath Al-Bari Syarah Shahih al-Bukhari, 18/351).

'Pingsan karena beratnya rasa sakit' inilah yang dimaksud dengan Sakaratul Maut. Detik detik menegangkan saat nyawa akan dikeluarkan oleh malaikat maut dari jasad seorang hamba dinamakan Sakaratul Maut, karena pada saat itu orang yang mengalaminya berada dalam keadaan setengah sadar dan setengah pingsan, dia tidak berada di alam dunia, pun belum sepenuhnya memasuki alam akhirat.

Rasa sakit pada saat menghadapi Sakaratul Maut ini disebutkan dalam firman Allah Ta'ala:
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Tidak! Apabila (nyawa) telah sampai ke kerongkongan, Dan dikatakan kepadanya 'Siapakah yang dapat menyembuhkan?' Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia). Dan bertautlah betis (kiri) dengan betis (kanan). Kepadanya Rabbmulah pada hari itu engkau dihalau. (Al-Qiyamah [75]: 26-30).

Ilustrasi Sakaratul Maut (https://bincangsyariah.com/)

Begitu sakitnya saat-saat menentukan ini, sehingga Rasulullah Saw sendiri sempat pingsan dan harus mengompres wajah beliau dengan selembar kain dan air dingin. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits yang Shahih dari Aisyah ra, dia berkata, "Saat Rasulullah Saw masih sehat, beliau pernah bersabda, 'Tidaklah ada seorang Nabi pun yang diwafatkan, melainkan kepadanya telah diperlihatkan tempatnya kelak di surga, kemudian dia diberi kesempatan memilih (untuk hidup di dunia lebih lama lagi atau diwafatkan untuk mendapatkan tempatnya di surga)'.
Ketika beliau mengalami detik-detik terakhir hidup beliau dan kepala beliau berada di atas paha saya, beliau pingsan beberapa saat. Setelah itu beliau tersadar kembali dan memandang ke arah atap rumah, seraya bersabda, "Ya Allah (aku memilih) Ar,-Rafiq Al-A'la.(HR. Bukhari no 4083 dan Muslim no 4476).

Sungguh kondisi yang sangat kritis dan menyakitkan. Pada saat itu godaan setan mencapai puncaknya. Setan akan mencurahkan seluruh kemampuannya untuk menjerumuskan manusia agar tersesat dari jalan Allah, mati di atas kekafiran, kemunafikan, dan kemaksiatan. Rasulullah Saw bahkan mengungkapkan besarnya tipu daya setan dengan istilah 'kerasukan setan'. Beliau juga mengajarkan do'a agar dimudahkan oleh Allah pada saat Sakaratul Maut, dan tidak tergoda oleh tipu daya setan.
https://thiarapurnama.wordpress.com/
Ilustrasi Tipu Muslihat Setan (https://thiarapurnama.wordpress.com/)
                                                        
Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang Shahih, Jabir bin Abdullah berkata, "Saya mendengar Rasulullah Saw telah bersabda, "Sesungguhnya setan mendatangi salah seorang di antara kalian pada setiap kegiatannya. Bahkan setan mendatanginya pada saat dia makan. Karena itu, apabila jatuh sepotong makanan, maka hendaklah dia bersihkan kotorannya lalu dia makan makanannya, dan hendaklah dia tidak membiarkannya dimakan oleh setan. Dan apabila di telah selesai makan, hendaklah kalian menjilati jari-jarinya, karena dia tidak tahu pada bagian manakah berkah makanan itu berada. ((HR. Muslim no 3794).

Apabila Rasulullah Saw yang merupakan hamba Allah SWT yang paling mulia dan dicintai oleh Allah SWT saja merasakan rasa sakit yang demikian hebat pada saat mengalami Sakaratul Maut, maka bagaimana lagi dengan orang-orang lain selain beliau?

Rasa sakit yang dialami oleh Rasulullah Saw sama sekali tidak mengurangi derajat dan keutamaan beliau. Sebab berbagai hadits yang Shahih telah menjelaskan bahwa ujian bagi para Nabi dan Rasul dilipatgandakan dari ujian bagi orang-orang mukmin lainnya, karena pahala bagi mereka juga dilipatgandakan dari pahala orang-orang mukmin lainnya. Maka rasa sakit luar biasa yang beliau alami tersebut, bisa jadi dilipatgandakan dari rasa sakit orang-orang mukmin lainnya. Hal ini justru untuk semakin melipatgandakan pahala bagi beliau.

Hikmah lain yang bisa dipetik dari rasa sakit yang dialami oleh Rasulullah Saw ini adalah sebuah peringatan dini bagi umat beliau, agar mereka mempersiapkan amal shalih yang lebih baik dan lebih banyak lagi dalam menghadapi datangnya kematian. Seorang mukmin tidak akan kagum atau merasa cukup dengan amal shalih yang telah dia kerjakan saat ini. Bila dibandingkan dengan amal-amal Rasulullah, tentulah amal shalihnya tidak ada nilainya. Setelah melihat amal shalih Rasulullah Saw dan rasa sakit yang beliau alami saat Sakaratul Maut, seorang mukmin akan sadar bahwa dia masih perlu memperbaiki diri dan amalnya lebih jauh lagi.

Orang-orang yang beriman dan beramal shalih boleh jadi akan merasakan berat dan sakitnya Sakaratul Maut. Meski demikian, Allah juga menyelamatkan sebagian hamba pilihan-Nya dari rasa sakit saat menghadapi Sakaratul Maut, sebagai balasan atas kesungguhannya dalam mencurahkan segenap waktu, tenaga, usia, harta, dan bahkan nyawanya demi tegaknya kalimat Allah SWT di muka bumi. Mereka adalah yang mati syahid karena berjihad di jalan-Nya.

Sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang Shahih dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Rasulullah Saw telah bersabda, "Orang yang mati syahid tidak akan merasakan sakitnya terbunuh kecuali sebagaimana salah seorang diantara kalian merasakan gigitan seekor semut," (HR. Tirmidzi no 1591).

Adapun orang-orang kafir, musyrik, murtad, munafik, dan fasik, rasa sakit yang mereka alami saat menghadapi Sakaratul Maut sangatlah berat. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah SWT: 
"Alangkah dahsyatnya sekiranya engkau melihat di waktu orang-orang yang zhalim itu berada dalam tekanan-tekanan Sakaratul Maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya sambil berkata,"Keluarkan lah nyawa kalian. Pada hari ini kalian dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kalian telah mengatakan terhadap Allah perkataan yang tidak benar dan karena kalian selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya."
(Al-An'am [6]: 93)
"Kalau engkau melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka dan berkata, 'Rasakanlah oleh kalian siksa neraka yang membakar!' (tentulah engkau akan merasa ngeri). Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya." (Al-Anfal [8]: 50-51).

Kawan, mari kita bersama-sama berlomba dalam perbanyak amal shalih. Semoga Kita dimudahkan oleh Allah SWT dalam melewati Sakaratul Maut. 

Aamiin ya Rabbal'alamin


Tulisan ini dikutip dari Buku "PERJALANAN KE AKHIRAT" Penyunting Abu Fatihah Al-Adnani (2016)