Tulisan ini bercerita tentang beberapa Recap moment hari-hari saya selama di Tahun 2021 My Rekap 2021 Januari dan Februari tahun 2021      W...

Tulisan ini bercerita tentang beberapa Recap moment hari-hari saya selama di Tahun 2021

My Rekap 2021

Januari dan Februari tahun 2021

    Wabah covid-19, masih mewabah di seluruh Negara. Awal tahun ini sedikit berbeda karena tahun-tahun lalu masih bisa menikmati indahnya hari-hari tanpa ada rasa was-was. Pada bulan ini saya masih mencoba melamar kerja lewat email, namun tidak ada kesempatan untuk mengabdikan diri ini untuk mengajar. Jadi, saya mengisi waktu dengan cara mengajar anak SD membaca dan mengaji. Saat itu, saya lagi menginap di tempat tinggal kakak ipar. Saya menemani kakak ipar yang qadarullah Mama kakak ipar sudah kembali kepangkuan sang Pencipta kita semua. Ceritanya selang beberapa waktu pagi hari bulan Oktober 2020, kakak ipar mendapat telpon dari ayahnya. Ayahnya bercerita kalau Mamanya sudah meninggal, antara sadar dan tidak kakak ipar bilang mama siapa ?. Papanya menjawab, iya mama. Sontak dia bangun dari tidur, dengan panik dia minta periksa baik baik Pa. Karena panik kakak minta panggil dokter yang dibelah rumah. Dokter itu bilang, memang ibu kakak saya telah meninggal dunia. Tangis kakak pun pecah, dia sedih karena tidak ada disamping mamanya dihari hari terakhir beliau. Kakak sedih karena dia tidak bisa segera ikut melakukan proses pemakaman mamanya, karena domisili tempat kerja kakak di pulau ketiga WAKATOBI yaitu pulau Tomia, Provinsi Sulawesi Tenggara. Jika kita ditinggal sama orang kita yang cintai untuk selamanya, hal-hal biasanya kita lakukan seperti berpegang tangan, saling berbagi cerita, berpelukan, dan lain-lain yang tidak bisa lagi kita lakukan bersama orang tersebut. Pastinya kita amat sangat sedih. Namun, saya yakin bagi  kita umat beragama Islam, sudah tahu akan Janji Allah swt tentang kematian hambaNya tidak dapat ditunda.

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ

Artinya: Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu), apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapa meminta penundaan atau percepatan sesaat pun. (QS. Al-Al'Araf: 34)

        Permasalahan virus corona-19 (COVID-19) belum juga bisa teratasi di seluruh belahan Dunia. Covid-19 masih meraja rela di Indonesia, karena itu segala aktifitas dilakukan secara daring (online). Kegiatan yang biasanya dilakukan secara langsung (offline) seperti sekolah, kerja, seminar, wisuda, dan lain halnya. Sejak covid-19 mewabah masuk bulan Februari tahun 2020, Indonesia melaksanakan wisuda secara daring. Saya yang sebelum diberi kesempatan memilih wisuda daring (online) atau offline. Qadarullah, covid-19 belum terlihat penyelesaian masalahnya. Saya mendapat email dari panitia kampus. Panitia memberitahu surat edaran bahwa yang memilih wisuda offline akan dilaksanakan wisuda daring pada Hari Rabu tanggal 18 Februari 2021. Filosofi kampus setiap melakukan acara wisuda selalu Hari Rabu, karena hari itu waktu didirikannya Kampus tersebut. Alhamdulillah, wisuda daring terlaksana dengn lancar. Walaupun suasana agak berbeda dengan secara langsung. Namun keluarga tidak membuat saya bersedih, kakak kakak saya sibuk menyiapkan persiapan untuk wisuda saya mulai dari baju wisuda, make-up, dan dokumentasi. 

Alhamdulillah, saya diberikan kesempatan bisa menimpa ilmu di salah satu kampus terbaik di Indonesia, yaitu University IPB. Keinginan saya berawal ketika melihat profil dosen-dosen kebanyakan alumni dari IPB. Jadi saya sangat ingin merasakan bisa menimpa ilmu di kampus IPB. Segala kekuasaan dan rezeki dari Allah swt berikan kepada Abang-abang serta keluarga besar, lewat dukungan mereka saya akhirnya bisa menjadi salah satu alumni dari University IPB.

Hari minggu sekitar jam 09.00 WIB pada tanggal 28 Februari 2021, Kakak ipar membawa kedua anaknya, saya, dan ponakannya ke kebun binatang Kasang Kulim Pekanbaru. Jarak rumah  ke Kebun binatang yaitu 9,5 km, dan membutuhkan waktu ±18 menit, terletak di jalan raya pasir putih, Tanah Merah, Kecamatan Siak Hulu, Riau.  Harga tiket masuk Rp.25 ribu/orang, kalau anak dibawah 3 tahun tidak dikenakan biaya masuk. Saya mau mereview kebun binatang kasang kulim. View pertama yang terihat hewan hewan burung-burung yang diberi label nama, tempat asal, dan nama latinnya.  Kita akan melihat berbagai macam hewan seperti Gajah, Tapir, Orang hutan, ular, etc. Namun, view yang saya rasakan disana kebun binatang sedikit tidak terurus. Saya sedikit memaklumi mungkin karena wabah covid-19, tenaga teknisi tidak memadai untuk mengurus kebun binatang ini.


(Dokumentasi)


Maret dan April tahun 2021

Pada bulan Maret ini, Ajo (panggilan untuk Abang bagi orang Pariaman) datang dari Tomia, SulTra untuk menjemput kakak Ipar dan ponakan kembali ke Tomia, Sultra. Sebelum mereka kembali, Ajo, kakak Ipar, Papa Kakak iPar, ponakan saya, kami berlibur singkat ke Bukit Tinggi- Sumatra Barat. Jikalau dingat-ingat hampir 7 tahun tidak ke daerah Sumatra Barat. Kami berangkat dari Pekanbaru sekitar jam 0.8.30 sampai di Bukit Tinggi sekitar jam 14.30 WIB, perkiraan waktu tempuh selama 4 jam 46 menit (di map) dengan jarak 214 KM.

Kami menginap di Hotel Balcone and Resort Bukit Tinggi, jalan Raya Bukit Tinggi, Gadut, Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, SumBar. Hotel Balcone seperti hotel berbintang 4,5 lainnya. View yang kita dapat di hotel Balcone, yaitu indahnya pemandangan alam, ditambah hotel ini ditanami berbagai jenis warna warni tanaman bunga-bunga, spot untuk foto ataupun swafoto, kolam renang yang luas, serta ada balcone untuk kita bersantai baik di pagi, siang, dan malam. Kita dapat melihat view yang berbeda sesuai kamar yang di kita booking. Agenda kami setelah rehat sejenak di Hotel, sorenya kami menuju jam Gadang. Sesampai disana kami tidak ketinggalan dengan wisatawan lainnya untuk berswafoto (selfie) di Jam Gadang. Setelah puas berfoto, kakak ipar mengajak saya untuk naik Bendi (Delman). Budget untuk naik Bendi sekitaran Rp. 50 ribu hingga 200 ribu, itu tergantung rute yang diinginkan pengunjung.Rute-rute bendi membawa wisatawan berkeliling dari area Jam Gadang, turun ke arah Jembatan Limpapeh, Rumah Sakit Achmad Mochtar, Atas Ngarai, Panorama Lubang Jepang, sehingga kembali ke atas Pasa Ateh. Selama bendi berjalan, saya mengobrol sama kusirnya. Saya bertanya kuda beni ini di pinjam atau punya sendiri. Kusir itu menjawab, punya sendiri dan bapak kusir itu pelihara dari usia kecil sampai kuda itu siap digunakan sebagai kendaraan wisata. kemudian kuda tersebut dilatih untuk kendaraan wisata sebagai mata pencaharian bagi bapak kusir. Kuda yang terlatih memang terlihat dari dia berjalan di jalan raya, karena saat bendi kami melintasi rute yang kami pilih. Saat itu juga, saya melihat calon bapak kusir lagi melatih kudanya untuk menjadi kendaraan wisata bendi.

Merah saga sudah mulai terlihat di langit. Kamipun bergegas mencari tempat makan. Karena momentnya yang sangat langka kembali ke SumBar. Kakak ipar mengajak makan sate ternama di Padang Panjang. Waktu tempuh untuk menuju kesana lumayan lama ada ± 2 jam perjalanan. Setelah selesai makan, kami kembali lagi ke Hotel untuk istirahat. Ketika sampai di Hotel, saya menelpon ibu dan tidak ketinggalan saya menceritakan view Hotel Balcone, dan terlontar di mulut saya. InsyaAllah, nanti ketika sudah punya pasangan akan kembali lagi ke sini. (ketawa saya dalam hati). Pagi harinya, kami kembali berwisata yaitu pergi ke Jembatan Limpapeh dan Kebun Binatang Bukittinggi atau Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan (TMSBK). TMSBK  menjadi salah satu objek wisata di Bukittinggi dengan wahana didalamnya seperti zona Burung, Zona Reptile, Zona karnivora dengan kandang yang modern dan menarik. TMSBK memiliki koleksi hewan lengkap, ada harimau, gajah, singa, jerapah, buaya, ular, burung, ikan, dan ada juga museum zoologi dimana pameran koleksi hewan-hewan yang telah diawetkan, serta berbagai hewan lainnya.

Meet up dengan Adek widya yang mengantar titipan Mendali Toga Wisuda dari Kampus IPB. Kami janjian di depan hotel mona tepat didepan Universitas Riau (UR).  Waktu bertemu kami berbincang sementar kemudian jalan-jalan ke waduk dan jembatan kupu-kupu sambil bernostalgia lagi waktu kuliah di kampus UR. Kami  pakirkan motor dekat banyak motor-motor terpakir di area waduk. Siang itu ada para pemancing yang lagi asyik memancing ikan di waduk. Kami menikmati view waduk dengan berselfie di sana. Selain itu, kami melihat mahasiswa lagi melakukan praktikum atau mungkin lagi riset. Terlihat mereka seperti mengukur debit air..

Dokumentasi

Mei, Juni, dan Juli tahun 2021

Bulan puasa tinggal hitungan hari lagi mau Hari Lebaran Idul Fitri. Saya dan Kakak-kakak lainnya mengantar ibu ke bandara SK-II Pekanbaru. Beliau ingin jumpa dengan si bungsu yang berdomisili di Depok. Beliau ingin jalan-jalan sekalian mau jumpai cucu nya. qadarullah waktu itu Pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk tidak mudik, H-5 Lebaran.  Jadi, Ibu kami belikan tiket jauh sebelum dilarang untuk mudik. Tahun ini, Ibu Lebaran Idulfitri  bersama Adek di Depok.  Saat lebaran pun tiba, maka silaturahmi dilakukan lewat daring. Semua orangpun yang tidak bertemu sapa karena jarak yang jauh maka silaturahmi minta maaf lahir dan bathin secara daring (online).

    Rutinitas saya seperti biasa membantu kakak menjaga kedua anaknya dan saya saat itu belajar menjahit baju gamis. Saya belajar autodidak lewat channel Youtube. Alhasil, baju saya buatlah lumayan bagus untuk dipakai sehari-hari, walaupun beberapa kali terjadi kesalahan jahitan kemudian saya buka lalu jahit lagi. Pada akhir bulan Juli saya  mendaftar  menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tahun 2021.   


Agustus dan September tahun 2021

Happy birthday to me. Bulan ini adalah bulan lahir saya dan kedua ponakan saya. Tiga puluh tahun saya sudah menikmati karunia dari Allah swt. Ibu saya masih  menetap di Depok. Dikarenakan jadwal PPKM di Pulau di perpanjang. So, ibu untuk sementara harus tetap stay di sana. Saya masih melakukan runitinitas seperti biasa sambil belajar persiapan untuk CPNS.

Yey, ibu akhirnya balik dari Jakarta. Saya dapat berita dari Abang saya. Saya yang terkejut mendapatkan kabar itu, lantas saya menghubungi Ibu. Beliau jawab, Iya, ibu mau ke Pekanbaru. Abang meminta saya untuk menjemput Ibu ke Bandara. Karena waktu pulang Ibu bertepatan dengan jadwal saya untuk vaksin kedua. Jadi, saya urungkan niat untuk vaksin kedua, saya mau ganti jadwal untuk besoknya. Tidak selang beberapa waktu saya mau siap-siap menjemput Ibu. Saya dapat telpon dari Bude (tetangga) yang kebetulan dia Bidan di Pukesmas tempat saya vaksin pertama. Beliau menanyai saya kenapa belum datang untuk vaksin. Kemuadian saya bilang saya mau jemput Ibu ke Bandara, jadi vaksinnya besok saja. Tetapi beliau menjawab, kata beliau untuk vaksin yang telah terjadwal tidak boleh diundur harinya. So, saya pergi ke Puskesmas lalu setelah itu pergi ke Bandara untuk jemput Ibu.

Rencana tinggal rencana ternyata waktu saya lagi proses vaksin, pesawat ibu sudah landing. Jadi, Ibu pulang sendiri dengan Taksi Bandara. Sesampai Ibu dirumah, saya tanya Bagaimana proses mendapatkan Taksi. Ibu bercerita, ibu tanya ke driver berapa budget ke Panam. Rerata driver menjawab sekitar 75 ribu/ 80 ribu. Jadi, Ibu tetap semangat mencari harga yang menurut dia sesuai. Akhirnya, Beliau didatangi oleh salah satu driver. Ibu akhirnya setuju dengan harga yang ditawarkan driver tersebut.

Hari berganti hari, saya mendapat undangan message whatapps dari junior di kampus UR.  Adek itu minta saya untuk datang ke walimahannya. Sebagai seorang muslim memenuhi undangan itu wajib. Saya akhirnya janjian sama teman-teman yang lain untuk hadir diwaktu yang sama. Pertemuan yang tidak direncanakan akhirnya terjadi. Saya bertemu dengan teman yang sudah lama tidak bertegur sapa secara langsung. Tidak banyak yang berubah dari kami. Heboh-hebohnya dan canda tawanya ketika bertemu masih sama waktu Kuliah dulu.


Oktober, November, dan Desember Tahun 2021.

Hari Senin tanggal 4 Oktober 2021, Saya mengikuti seleksi CPNS. Bismillah, saya berangkat dua jam sebelum ujian ke lokasi ujian yaitu Pusat Komputer (PUSKOM) Universitas Riau. Selama perjalanan saya meminta kemudahan sama Allah swt. Ketika saya sampai di lokasi. Saya mencari tempat untuk istirahat. Dua puluh menit kemudian Panitia memanggil peserta untuk registrasi sebelum ujian. Setelah selesai registrasi saya mencoba bertegur sapa dengan peserta disebelah saya. Dia bernama Dilla, dia alumni UNY. Tidak butuh waktu lama, kami akrab lalu kami berpamitan untuk masuk ke ruang ujian masing-masing.

Saya memasuki ruang ujian, tiba-tiba ada rasa deg-degan. Selama ujian saya merasa dihantui dengan waktu yang terasa berjalan cepat di layar komputer. Ketika waktu menunjukkan 20 menit lagi, saya terkesa-terkesa menjawab pertanyaan yang belum terjawab. Hitungan dimulai 1, 2, dan 3 layar yang menampilkan soal ditutup. Kemudian kita akan mengisi diberi kuisioner setelah ujian. Tahap terakhir setelah itu, kita akan diberi nilai jawaban setelah ujian. Tiba-tiba rasanya hati ini sedih setelah melihat nilai yang didapatkan setelah persiapan selama ini. Saya tidak lulus passing grade, sedih iya sedih tetapi hal ini sudah terjadi. Hikmah yang saya dapat ambil saya harus lebih banyak kerjakan soal secara online. Karena saya selama ini lebih banyak kerjakan soal di buku daripada secara online. Ya, Allah swt pasti punya rencana lain untuk saya.

Kakak-kakak pada menelpon saya, tanya bagaimana hasil ujian CPNS saya. Nada suara saya agak berat memberi kabar kalau saya tidak lulus. Ada nada kekecewaan terdengar di telinga saya. Tetapi yang telah terjadi, ya sudah. Abang, kakak mulai mencarikan solusi buat saya. Beberapa minggu kemudian, saya diberitahu bahwa di pulau Wakatobi lagi butuh tenaga alumni perikanan. Jadi, saya menjawab, tunggu ya kak. Saya mau ngobrol sama Ibu. Ibu yang mendengar kabar itu, antara kasih izin dan tidak. Tetapi beliau pertimbangkan karena saya sudah terlalu lama menunggu pekerjaan seperti itu sejak wabah corona masuk di Indonesia. Ibu akhirnya mengasih izin saya untuk kerja di Wakatobi.

Akhir bulan Oktober tepatnya pada tanggal 31 hari Minggu, saya berangkat ke Wakatobi. Pesawat saya berangkat jan 13.55 WIB dengan maskapai Lion Air, estimasi sampai di Jakarta 15.40. Anggaran biaya maskapai saat itu sebesar 955 ribu beserta asuransi Covid-19. Karena saya melakukan perjalanan lewat udara. Kebijakan Pemerintah menegaskan bagi masyarakat yang tour memakai pesawat udara, wajib untuk melakukan pemeriksaan PCR. Pemeriksaan dilakukan di Rumah Sakit Ibnu Sina. Hasil pemeriksaan dapat berlaku selama 48 jam setelah hasil keluar.

Hari yang ditunggu tiba, saya diantar oleh Ibu, Abang, Kakak Ipar, Ayang (Panggilan untuk seorang kakak diadat minang), keponakan-ponakan, adek sepupu, dan anak murid kakak ipar ke Bandara SSK-II Pekanbaru. Sebelum ke Bandara, kami lunch dulu sekeluarga. Selesai makan, kami menuju Bandara SSK-II. Kami sampai disana lebih cepat satu jam waktu keberangkatan. Jadi, saya cek-in dan masukkan koper ke bagasi. Setelah selesai cek-in, saya bermain dengan ponakan-ponakan. Saya peluk mereka, lalu berbisik untuk izin pergi. Ponakan yang besar mendengar itu, dia nangis Ante tidak boleh pergi. Bertepatan panggilan boarding sudah ada. Jadi, saya pamitan sama keluarga besar. Saya lalu pergi, saya takut sedih melihat mereka kalau saya menoleh kebelakang. Jadi, saya jalan lurus saja dan waktu juga tidak mendukung untuk bersedih karena panggilan pesawat sudah hampir panggilan terakhir.

Pesawat landing sesuai Jadwal, tapi waktu mau pengambilan Bagasi terjadi problem. Tempat pengambilan Bagasi tiba-tiba berubah nama, para penumpang bergegas kembali mencari tempat perubahan itu. Hampir satu jam lebih, kami para penumpang dibuat bolak balik mencari tempat pengambilan sambil bertanya sama petugas. Namun, apalah dikata ternyata tempat pengambilan tetap itu juga. Jadi, kami bergegas kembali ke tempat semula. Akhirnya, koper dapat diambil, waktu di jam saya sudah menunjukkan jam 18.00 WIB. Adek saya menelpon menanyai saya mau naik apa ke kontrakan dia. Saya bilang naik Taksi aja ya, karena kepala saya sudah pusing karena bolak balik mencari koper. Saya menuju tempat order Taxi, dan akhirnya giliran saya. Saya langsung menuju ke alamat kontrakan adek. (Budget taksi waktu itu dari Bandara Soekarno Hatta ke daerah Pasar Minggu sekitar 350 ribu).

Saya menginap dua hari satu malam di kontrakan adek. Hari Rabu tanggal 3 November 2021, saya melanjutkan perjalanan ke Wakatobi. Perjalanan kami dari Bandara Soekarno Hatta pada pukul 02.15 WIB dini hari, karena pesawat saya berangkat jam 04.30 WIB dengan maskapai Citilink ke Bandara Hasanuddin (Makassar), Lion Air ke Bandara Kaluoleo (Kendari), dan Wings Air ke Baandara Matahora (Wakatobi)  (Budget yang dibutuhkan diatas sekitar 1.500.000,- lebih belum masuk dana PCR). Test PCR yang bekerja sama dengan maskapai ini di KPH Lab Service Point (Kanomas Raden Saleh) Jakarta. Adek, adek ipar, dan ponakan pergi mengantar saya. Ketika kami sampai kami langsung menuju tempat cek-in, dan ternyata sudah banyak antriannya. Ada rasa takut telat di hati saya, tetapi giliran saya letakkan koper ke bagasi. Timing saya sangat pas sekali, saya lalu ke tempat adek saya yang lagi nunggu saya. Dia lihat Kartu boardingpass saya, Gate pesawat yang akan saya tumpangi itu letaknya sangat jauh. Dia kasih saran jalannya harus dipercepat. Kami bergegas menuju pintu masuk ruang boarding. Saya lalu berpamitan dengan adek, adek ipar, ponakan saya. Saya berjalan mengikuti petunjuk untuk ke GATE 19. Perjalanan ke Gate ini, ternyata lumayan butuh waktu karena letak gate ini di ujung. Sesampai di ruang tunggu sekitar 15 menit, panggilan dari petugas untuk masuk pesawat.

Perjalanan dari Bandara Soekarno Hatta (Jakarta) ke Bandara Hasanuddin (Makassar) sekitar 2,5 jam. Jadwal saya berangkat dari jam 05.00 WIB, estimasi sampai 08.25 WITA. Alhamdulillah, Pesawat landing sesuai jadwal. Saya menuju tempat pengambilan bagasi. Setelah bagasi saya dapatkan, saya menanyai petugas Gate maskapai Lion air untuk transit ke Bandara Haluoleo (Kendari). Kemudian, Saya menuju tempat yang ditunjuk petugas. Saya akhirnya menemukan Gate maskapai. Waktu keberangkatan masih lama, saya menunggu di area lain. Area waiting list sudah rame penumpang. Saat waktu menunjukkan waktu keberangkatan saya, mendekati petuga penjaga Gate, ternyata terjadi perubahan jadwal pesawat. Kami para penumpang lain dengan sabar menunggu kabar selanjutnya. Waktu sudah menunjukkan waktu 14.00 WITA, akhirnya terdengar panggilan masuk pesawat dari petugas. Saya dan penumpang lainnya menuju pesawat. Estimasi waktu dari Makassar, Kendari, dan Wakatobi sekitar 4 jam 20 menit dengan 1 kali transit. Waktu cek-in di Makassar

Pesawat landing ke Bandara Haluoleo (Kendari), saya terkejut ternyata bagasi untuk pesawat Wings Air dari Kendari ke Wakatobi belum sekaligus dengan harga tiket. Waktu itu saya, dapat bantu dari bapak-bapak. Bapak itu melihat saya kelihatan kesusahan bawa koper, bapak itu bantu untuk cek-in. Setelah itu bapak itu bilang saya kena 300 ribu, tapi karena saya googling dulu berapa harga bagasi. Menurut saya baca tidak sampai harganya segitu. Jadi, saya bilang hanya bisa bayar 200 ribu. Akhirnya bapak itu terima aja. Setelah proses cek-in selesai, saya menuju ruang tunggu dan panggilan masuk pesawat terdengar selama 1 jam menunggu. Saat menuju pesawat ternyata pesawat WINGS AIR berukuran kecil dari pesawat umumnya. Pantas saja, bagasinya di bayar kalau bermuatan lebih yang bisa di bawa ke cabin. Pilotpun memberi pemberitahuan pesawat akan take off. Setelah take off, pilot pun menjelaskan berapa jarak kaki ketinggian pesawat dari permukaan laut. Waktu itu posisi tempat saya duduk dekat jendala. MasyaAllah, ternyata pesawat terbang tidak terlalu tinggi seperti pesawat lainnya. View yang saya lihat pemandangan laut dan daratan yang sangat jelas dari atas pesawat. Akhirnya, pesawat landing ke Bandara Matahora (Wakatobi). Disinilah kisah saya akan dimulai untuk Tahun 2022.

Terima ya Allah swt, setelah menulis moment yang telah dilewati di tahun 2021. Saya sangat terasa Kebesaran, Kekuasaan, dan Maha Penyayang dan Kasih Engkau ya Robbii ke pada Hamba Mu yang Lemah ini..

SEKIAN



<iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/sXiLxy96S4I" title="YouTube video player" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>










Siang itu.. Cahaya Matahari sangat mengitu menyilaukan mata. tet tet tet.., terdengar suara klakson motor diluar rumah. "Yupz., Tung...

Siang itu..
Cahaya Matahari sangat mengitu menyilaukan mata. tet tet tet.., terdengar suara klakson motor diluar rumah. "Yupz., Tunggu sebentar ya.. Saya mau ganti baju. Masuk aja dulu ke rumah'' (Sahut saya ke Dia). Dia memakirkan motornya di depan rumah. Baliklah., Saya akan perkenalkan dulu siapa Dia. Dia adalah teman seperjuanganku di jalan Dakwah. Kami bertemu disuatu organisasi dakwah di salah satu kampus Pekanbaru (Riau). Dia biasa di panggil "Ina". Yah.., itu nama panggilan nya. 

Begitu dia masuk ke rumah. Alangkah terkejutnya dia., melihat kakak saya sudah melahirkan seorang anak lagi.. (Dia dekat juga dengan kakak :) :). Dia hanya bisa melihat ponakan saya dari kejauhan., karena saat ini Dunia sedang diuji dengan wabah pandemic COVID-19 (Corona Virus Disease 2019). Tak lama dia berbincang dengan kakak. Sayapun keluar dari kamar. Yukz., na.., kata saya kepadanya. Kamipun akhirnya pamit dengan kakak dan ibu yang lagi  asyik menanam bunga di samping rumah. 


Swafoto di cafe

Kamipun pergi ke tempat cafe salah satu junior kami di jalan Merak Sakti_Pekanbaru. Disana., Kami sudah ditunggu dengan adek junior kami yg sebelumnya kami janjian di cafe temannya itu. Dia dikenal dengan nama Santy. Perjalanan kesana tidak terlalu jauh., hanya butuh waktu 15 menit .. (kalau macet seperti Jakarta /Bogor mungkin butuh waktu berjam-jam). Sesampainya kami di cafe, kami asyik bercerita tentang kegiatan-kegiatan yang telah kami lalui selama ini. Kadang-kadang ada membahas masalah kerjaan, dan cewek-cewek singel kalau sudah bertemu ujung pembicaraan pasti bertanya kapan mau menyebarkan undangan walimahan. waktu sudah menunjuk pukul 15.20 WIB, azan ashar sebentar lagi. kamipun segera meninggal cafe dan pergi ke rumah adek junior kami untuk melaksanakan sholat ashar. Selesai sholat ashar, dia mengajak kami ke kampus Universitas Riau (UR). Tentunya, saya dengan semangat mengiyakan karena sudah kangen kesana. Apalagi saya mau nostalgia dengan suasana kampus.

Kampus sudah banyak yang berubah, ada berbagai macam bagunan-bagunan baru, dan ada masih dalam proses pembangunan. Kami menuju kolam Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UR, Santy melakukan riset (penelitian) di labor pembenihan ikan. Kami membantu dia memasang aerator akuarium. Karena waktu yang singkat, persiapan wadah penelitian dilanjut esok harinya. Kami saling berpamitan dan berpisah di kampus UR. Kami pulang ke rumah masing-masing. 
Sekian

#Cerita #Lama #Baru #Teman #AdekJunior #Nostalgia #Silaturrahmi